Tidak Habis Pikir
Akhir2ini sering kali saya mendengar kata kembalilah kepada Al-Qur'an dan Sunnah
Kata itu sangat benar dan diterima oleh semua kalangan umat Islam
Tapi yg jadi masalah adalah pemahaman yang
Jauh dari ajaran islam bermadzhab
Contoh nyata adalah,
Ketika konsep kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah didengungkan, secara bersamaan ingin menghilangkan peran para ulama' yg tidak sepaham dengannya.
Sedangkan di sisi lain yang mengatakan itu masih mengikuti "ulama" (ingat ulama' dengan tanda petik) menurut mereka...
Disinilah terjadi ambivalensi terhadap kata-katanya sendiri...
Ajakan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah dan meniadakan peran ulama' itu justru bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah itu sendiri...
Karena didalam Al-Qur'an ada ayat :
فسأل أهل الذكر ان كنتم لا تعلمون..
"Bertanyalah kepada ahli zdikir (Ulama') jika kalian tdk mengerti'...
انما يخشى الله من عباده العلماء...
"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama'"...
Sedangkan hadits juga menjelaskan
علماء من أمتي كأنبياء بني إسرائيل...
"Ulama' dari pada umat ku seperti para Nabi Bani Israil".…
العلماء ورثة الأنبياء...
"Ulama' adalah pewaris para Nabi"...
Dan masih banyak lagi lainnya ayat maupun hadits yang menjelaskan tentang kedudukan dan kemuliaan para ulama'...
Saya kira sayang sekali orang-orang yang ketika menyampaikan kembali saja kepada Al-Qur'an dan Sunnah bahkan disampaikan saat halaqah atau majlis ta'lim yang bahkan si penyampai itu masih membawa kitab/buku panduan...
Bukankah kitab panduan yang sedang dibaca itu juga merupakan karya ulama' (meskipun hanya menurut pribadinya, bukan menurut kreteria Al-Qur'an hadits) ???...
Tidak mungkin ada orang pintar, intelektual, ilmuan, ustadz, kiai, guru, dosen atau apapun istilahnya, kalau orang tersebut tdk belajar kepada ulama' (orang alim-berilmu) baik langsung atau dengan membaca karya-karyanya melalui talqin dari santrinya.
Rupanya selogan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah itu adalah hanya sebuah "hipnotis dan doktrin" untuk mendapatkan dukungan dan pengikut belaka...
Buktinya selogan ini hanyalah trik untuk memukul siapa saja yang tidak disukai dan merangkul serta menjunjung tinggi yang disukainya...
Padahal orang² seperti ini (menurut saya) adalah orang yang tidak mampu atau tidak mau membedakan antara menguasai emosi dan dikuasai emosi.
Karena sudah jelas yg dibenci itu hanya segelintir orang bahkan hanya satu orang, tapi yg jadi korban adalah orang-orang yang tidak mengerti apa-apa yang terkena doktrin, hipnotis untuk mengikuti dan mendukung kebenciannya dengan memfonis orang lain Maksiat, Laknat, munafiq dan bahkan kafir di iringi mengeluarkan ayat Al-Qur'an dan hadits sebagai pembenaran, padahal pemfonisan itu membutuhkan beberapa proses tidak boleh hanya sebatas prasangka apa lagi hanya ikut-ikutan, dan kalaupun fonis itu benar² terjadi masih tidak boleh disebar luaskan, apa lagi menuntut orang lain untuk ikut membenci, lebih berat lagi yg dibenci itu seorang pemimpin,
Jadi kesimpulan menurut saya, selogan itu hanyalah sebuah cara untuk menguasai, memperbudak orang² yang terkena hipnotis untuk mengikuti perintahnya.
Yahya Syarwani.
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih anda telah mengunjungi kami